TEKNIK MENGGALI HUKUM DENGAN PENDEKATAN PEMBAHASAAN

Posted by

 


Dalam Ushul fiqih, lafadz itu dibedakan menjadi empat yaitu : Khash, ‘Am, Musytarak, dan mu’awwal. Dibawah ini akan dijelaskan masing-masing bentuk lafadz diatas.

           A . KHASH
1.    Pengertian
            Khash menurut Wahbah Al-zuhaily, lafadz khash itu adalah lafadz yang mempunyai satu makna atau arti yang berdiri sendiri. Ini berarti lafadz khash itu adakalanya merupakan lafadz yang menunjuk dalam satu orang, adakalanya menunjuk pada satu jenis tertentu. Seperti satu orang laki-laki atau kuda.
2.    Penggunaan lafadz khash
            Penunjukkan lafadz khash menurut kesepakatan ulama’ hanafiyyah dan madzhab-madzhab yang lain pada makna atau arti lafadz itu secara pasti atau qath’i selama tidak ada dalil atau petunjuk yang membelokkan makna itu ke makna yang lain. Sebagai contoh  dapat dikemukakan disini lafadz “ثلاثة أيام” (tiga hari) dalam potongan ayat :فصيام ثلاثة أيام  . Bilangan tersebut menunjukkan maknanya secara pasti (qath’i).
            Jika terdapat dalil atau petunjuk yang dapat memungkinkan pembelokan makna lafadz khash itu, maka penunjukan makna khash itu bukan sebuah kepastian (qath’i). Kemudian makna ini berdasar pada dalil atau petunjuk yang ada, yakni bahwa bagi hakim yang penting adalah menghukum orang yang salah dengan seadil adilnya, bukan harus melaksanakan materi hukuman itu.


3.    Macam-macam lafadz Khash
            Ada empat macam lafadz Khash yaitu : muthlaq, muqayyad, amar dan nahi. Pengertian dan penggunaan empat macam lafadz khash itu akan dijelaskan secukupnya dibawah ini.
A. Muthlaq
Pengertian
المطلق هو اللفظ الخص الذي يدل على فرد شائع أو أفراد على سبيل الشيوع ولم يتقيد بصفة من الصفات مثل رجل ورجال وكتاب وكتب
            Lafadz muthlaq adalah lafadz khash yang menunjuk pada satuan yang luas cakupannya tanpa dibatasi dengan sifat tertentu, seperti orang laki-laki atau buku/kitab.
Eksistensi Muthlaq
            Makna muthlaq itu akan tetap pada kemuthlakannya selama tidak ada dalil yang menunjuk pada pembatasan maknanya. Artinya jika terdapat lafadz muthlaq tanpa ada pembatasan, seperti lafadz raqabah dalam firman Allah yang menerangkan kafarat sumpah.

B. Muqayyad
Pengertian
المقيد لفظ خاص يدل على فرد شائع مقيد بصفة من الصغفات                          
            Lafadz Muqayyad adalah lafadz khash yang menunjuk pada satuan yang mencakup seluruh jenisnya yang telah dibatasi dengan sifat tertentu. Pembatasan yang dimaksud adalah pengurangan cakupan makna yang dimiliki lafadz itu sebelumnya. Sebagai contoh dapat dikemukakakan disini, misalnya ayat yang menjelaskan tetntang saksi suami yang melakukan dhihar terhadap istrinya.
Eksistensi Muqayyad
            Makna lafadz muqayyad ini diamalkan sesuai pembatasan yang ada selama tidak ada dalil yang menghilangkan pembatasan itu. Jika ditemukan dalil yang menghilangkan pembatasan itu maka pembatsan itu pun hilang pula. Dari sinilah makna ayat tentang sanksi bagi suami yang melakukan dhihar terhadap istrinya adalah melakukan puasa dua bulan berturut-turut dan sebelum mengumpuli istri tersebut. Artinya dua syarat tersebut (berturut-turut dan belum mengumpuli istri) harus dilaksanakn secara simultan. Berturut-turut tapi setelah mengumpuli istri juga tidak sah seperti sebelum mengumpuli istri tapi puasa yang dua bulan itu dilaksanakan dengan tidak berturut-turut.
C.  Amar
الآمرهو اللفظ الدال على طلب الفعل على جهة الإستعلاء وهذا رأي الحنفية والحنابلة                          
Pengertian
            Amar adalah lafadz yang menunjuk pada permintaan melakukan dari yang lebih tinggi. Ini menurut ulama’ hanafiyyah dan Hanabilah. Menurut kedua ulama’ ini (Hanafiyyah dan Hanabilah) amar itu harus muncul dari orang atau lembaga yang lebih tinggi dari yang diperintah.
Kehendak Amar
            Mayoritas ulama’ menyatakan bahwa makna amar itu menunjukkan pada wajibnya sesuatu yang diperintahkan. Makna ini tidak boleh digeser dari “wajib” selama tidak ada dalil atau petunjuk yang mengarah ke pergeseran itu.
Amar itu perintah sekali atau berulang-ulang
Ada beberapa pandangan sehubungan apakah amar itu untuk sekali atau berulang-ulang, diantaranya :
            Pertama : Pendapat ulama’ Hanafiyyah dan Hanabilah  mengatakan bahwa amar yang muthlaq itu tidak berarti “pengulangan” serta tidak menunjukkan jumlah sesuatu yang diperintahkan. Amar itu hanya menunjuk pada keberadaan pekerjaan itu tanoa melihat berapa kali pekerjaan itu harus dilakuykan. Ini berarti bahwa amar suatu pekerjaan itu dianggap selesai manakala telah dilakukan sekali, meskipun kemungkinan pengulangan itu tetap ada.
            Kedua : pendapat mayoritas ulama’ malakiyah dan pendapat mayoritas ulama’ syafi’yah.
أن الامريدل على المرة الواحدة لفظا ويحتمل التك                                           
            Sesungguhnya amar (perintah) itu menunjuk pada satu kali secara lafzhy dan mungkin memberi arti berulang.
Karena melaksanakan perintah itu bisa dianggap cukup dengan satu kali, makan makna satu kali itulah sesungguhn ya makna amar.
            Ketiga: pandangan dua tokoh besar (al-Isfirayiny dan al-Syarazy)
الآمر يدل على التكرار المستوعب لزمان العمل وهو مدة المر بشرط الإمكان                                    
            Amar itu menujuk pada pengulangan yang melingkupi waktu pelaksana,     yakni seumur hidup dengan syarat mungkin dilakukan.
Amar bersyarat
            Ulama’ berbeda pandangan tentang amar yang digantungkan pada suatu sifat atau syarat tertentu.
           1)      Amar bersyarat dilihat dari sisi bahasa itu menunjuk pada adanya pengulangan.
            2)      Amar bersyarat itu tidak menunjuk pada pengulangan, baik dari sisi bahasa atau dengan pola analog.
            3)      Amar bersyarat itu dari sisi bahasa tidak menunjuk pengulangan, namun dari sisi qiyas menunjuk pada pengulangan.
D. Nahy (larangan)
            Nahy ini bagian keempat dari lafazh Khash. Nahy ini khash dalam hal haram atau larangan, sebagaimana amar khash dalam hal kewajiban.
Pengertian
          Menurut bahasa nahy berarti larangan, sedang menurut termininolgi ahli ushul al-Fiqh terapat beberpa definisi yaitu:
قال الأسنوي هو القول الطالب للترك دلالة أولية                                          
          Nahy adalah ucapan yang sejak pertama kali mengandung tuntunan untuk     meninggalkan. (menurut imam al-Asnawy).
قال البخاري في كشف الأسرار هو استدعاء ترك الفعل بالقول ممن هو دونة                                     
          Nahy adalah permintaan dengan ucapan untuk meninggalkan suatu    perbuatan tertentu dari orang  yang lebih rendah kedudukannya (menurut imam al-Bukhary dalam Kasyf al-Asrar).
Makna lararangan
1)   Haram, contoh :
ولاتنكحوا ما نكح ءاباؤكم من النساء الا ما قد سلف                                      
          Dan janganlah (haram) kamu menikahi wanita yang pernah dinikahi ayahmu  kecuali pada masa lalu.
2)   Makruh, contoh :
لايمسك أحدكم ذكره بيمينه وهو يبول (رواه أصحاب الكتب السنه ما عدا مسلم)                                  
          Salah seorang dari kamu jangan (makruh) memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika sedang kencing.
3)   Do’a (permohonan), contoh :
ربنا لاتزغ قلوبنا بعدإذهديتنا                                                    
          Hai tuhanku janganlah (permohonan) kamu palingkan hati kami setelah         engkau beri hidayah kepada kami.
4)   Arahan (Irsyad), contoh :
ياايهاالذي ءامنوالاتسئلواعن أشياء إن تبد لكم تسؤكم                                 
          Hai orang-orangn yang beriman jangalah kamu tanyakan hal-hal yang jika     dijelaskan, kamu akan mendapat kesulitan.
B. 'AM
Pengertian
            Al-'am adalah lafadz yang menurut arti bahasanya menunjukan atas tercakupnya semua satuan-satuan yang ada didalam lafadz itu dengan tanpa memperhitungkan ukuran tertentu dari satuan-satuan itu. Seperti contoh lafadz (كل عقد) = "Setiap aqad", didalam pendapat fuqaha' yang berbunyi  :
كل عقد يشترط لانعقاده اهلية العاقدين
"Untuk shahnya setiap aqad, di syaratkan sifat keahlian dari orang-orang yang melakukan aqad".
Lafadz 'am tersebut menunjukan atas tercakupnya segala sesuatu yang bisa dikatakan aqad  tanpa membatasi dengan aqad tertentu.
Lafadz-lafadz 'Am
            Hasil penelitian terhadap mufrodat dan ungkapan dalam bahasa arab menunjukan bahwa lafadz-lafadz yang arti bahasanya menunjukkan kepada umum dan mencakup seluruh satuan-satuanya adalah sebagai berikut :
1. Lafadz (كل) dan (جميع), seperti :
   كل راع مسئول عن رعيته  = Setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinya.
2.  Lafadz mufrod yang dima'rifatkan dengan (ال تعريف للجنس ), seperti :
الزانية والزاني = wanita dan lelaki yang berzina
 والسارق والسارقة= Pencuri lelaki atau wanita
3.Jama' yang dima'rifatkan dengan (ال تعريف للجنس ), seperti :
  والمطلقات يتربصن= perempuan-perenpuan yang dijatuhi thalaq itu menahan diri menunggu
  dan jama' yang di ma'rifatkan dengan idhofah, seperti :
خذ من اموالكم صدقة = ambillah zakat dari mereka.
4. Isim-isim maushul, seperti :
والذين يرمون المحصنات= dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik (berbuat zina)
5. Isim-isim Syarath, seperti :
ومن قتل مؤمنا فتحرير رقبة مؤمنة= Dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena bersalah (hendaklah) ia memerdekakan hamba sahaya yang beriman.
6. Isim nakirah yang di nafikan, seperti :
لاضرر ولا ضرار = tidak boleh membuat madhorot diri sendiri dan tidak boleh memadhorotkan orang lain.

            Lafadz-lafadz tersebut menurut bahasa adalah benar-benar dibuat untuk menunjukkan tercakupnya seluruh satuanya. Apabila digunakan pada selain pengertian tersebut, maka  lafadz itu berlaku majazi, yang harus ada qorinah yang dapat menunjukkan kesana dan berpaling dari artinya yang sebenarnya (haqiqi).
Dalalah 'Am )pengertian yang ditunjuki lafadz 'am)
            Para ulama' ushul itu berbeda pendapat dalam dalalah 'am yang tidak ditakhshis apakah cakupanya kepada semua satuanya itu bersifat dhonny atau qath'y. Salah satunya yaitu ulama' syafi'iyah, berpendapat bahwa Al-'Am yang tidak ditakhshis mempunyai makna dhohir, tetapi tidak pasti. Jadi Al-'am tersebut dalalahnya tidak pasti atas tercakupnya seluruh satuan-satuannya, dan apabila di takhshiskan maka dalalahnya juga tidak pasti.
Pentakhshisan 'Am
            Lafadz 'am itu dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Lafadz 'am yang dapat dimasuki takhshish
2. Lafadz 'am yang tidak bisa dimasuki takhshish
            Ulama' Hanafiyah berpendapat bahwa yag bisa mentakhshish lafadz 'am adalah lafadz yang berdiri sendiri, bersamaan dalam suatu zaman serta mempunyai kekuatan yang sama dilihat dari segi qath'i atau dhonnynya. sebagai contoh surat al-Nisa' ayat 11 dan 12 tentang rincian bagian masing-masing ahli waris. Ayat kewarisan ini ditakhshish dengan lafadz :
لاميراث لقاتل (Si pembunuh itu tidak berhak mendapat warisan)
لا يرث اهل الملتين (Orang yang berlainan agama tidak dapat saling mewarisi)
            Hadits pertama memberikan syarat ahli waris berhak mendapat warisan manakala bukan sebagai pembunuh terhadap yang diwaris. Sedangkan hadits kedua memberikan tambahan syaratbahwa antara ahli waris dan yang meninggal dunia harus seagama.
            Menurut mayoritas ulama' selain Hanafiyah, takhshish bisa terjadi secara langsung atau tidak. Hal itu disebabkan bahwa yang mentakhshish bwerfungsi sebagai penjelas bagi yang 'am.
C.MUSYTARAK
Pengertian
            Lafadz musytarak adalah lafadz yang mempunyai arti lebih dari satu dengan kegunaan yang berbeda pula. Misalnya lafadz  (السنة) yang dapat berarti tahun Hijriyah dan juga Miladiyah. Dari pengertian ini Wahbah menetapkan dua syarat bagi lafadz musytarak, yaitu : doble penggunaan dan doble arti.
Sebab-sebab Terjadinya lafadz Musytarak
            Ada beberapa sebab yang mengakibatkan lahirnya sebuah lafadz musytarak, diantaranya :
1. Perbedaan penggunaan arti lafadz oleh beberapa suku.
            Seperti lafadz (اليد) yang yang oleh suku tertentu diartikan sebagai seluruh lengan dari pundak sampai ke ujung jari. Suku yang lain mengartikan hanya telapak tangan saja,dll.
2.Penggunaan arti lain oleh Syara'
            Seperti contoh lafadz sholat yang dalam arti bahsa berarti do'a dan oleh syara' diartikan sebagai sebuah ibadah tertentu yang telah dijelaskan didalam fiqih.
3. Tidak adanya kepastian antara makna haqiqi dan majazi
            Seperti contoh lafadz "nikah". Kata ini menurut ulama Syafi'iyah mempunyai arti haqiqi dan majazi. Arti haqiqinya adalah akad nikah, sedang makna majazinya adalah hubungan suami istri. Ulama Hanafiyah justru mengartikannya kebalikan dari ulama' Syafi'iyah.
4. Tidak adanaya kepastian antara makna asli dan 'urfy
            seperti makna "tahlil" adalah membaca kalimah thoyyibahلا اله الا الله , namun adat kebiasaan masyarakat memberikan arti sebagai sebuah kegiatan yang terdiri dari beberapa dzikir yang sering dibaca kaum muslimin dalam acara tertentu.

Makna yang ditunjuki Lafadz Musytarak (Dalalah al-Musytarak)
            Ulama' Ushul fiqih menetapkan bahwa ketika sebuah lafadz diragukan apakah ia memiliki makna ganda atau tunggal, maka yang dimenangkan adalah makna tunggal. seperti contoh jika lafadz dalam sebuah ayat al-Qur'an atau as-Sunah memilki makna menurut bahasa dan makna lain dari syar'i maka makna yang dimaksud oleh teks adaah makna syar'i.
            Dan ketika sebuah lafadz telah dipastikan memiliki makna ganda, maka tugas mujtahid adalah menetukan salah satu dari dua makna itu dengan mencari petunjuk yang menguatkan atas penentuan maknanya. Seperti contoh lafadz ( القر‘), menurut bahasa mempunyai makna ganda, yaitu : suci dan menstruasi. Ulama' Syafi'iyyah lebih memilih makna suci dengan alasan menurut kaidah bahasa arab lafadz ma'dud yang jatuh setelah kata bilangan tiga sampai dengan sepuluh yang menggunakan ta' marbuthah ,pasti berbentuk mudzakar. Dari argumen inilah maka lafadz " " yang jatuh setelah lafadz  lebih tepat diartikan  الطهر (suci) bukan   الحيضة(menstruasi).

Untuk yang ingin mendownload artikel ini silahkan klik gambar dibawah ini :


(Dinukil oleh : Muhammad Syafi' dari Buku Ushul Fiqih)


Blog, Updated at: 9:58:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan Komentar Pada artkel ini..
FOLLOW Blog saya untuk mendapatkan Artikel Terbaru dari Saya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts