KORELASI PERENCANAAN PENDIDIKAN DENGAN SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT

Posted by

I.         Latar Belakang Masalah
Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa pendidikan dan kehidupan masyarakat (sosial dan ekonomi) adalah dua faktor yang saling mempengaruhi. Keduanya mempunyai timbal balik yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, antara lain keadaan sosial ekonomi; faktor kesenjangan sosial ekonomi akan mempengaruhi strategi dalam perencanaan pendidikan. Pendidikan mempengaruhi kehidupan masyarakat, dengan memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik secara langsung maupun tidak langsung akan menentukan jenis pekerjaan dan penghidupan di kemudian hari, profesinya akan menempatkan seseorang pada tingkat sosial ekonomi tertentu.
Kegiatan pendidikan pada hakikatnya adalah pembangunan manusia dan pembangunan seluruh masyarakat yang maju dan berkepribadian luhur sesuai cita-cita pendiri bangsa. Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan tidak berdiri sendiri, oleh karena itu perencanaan pendidikan perlu mengetahui aspek-aspek sosial dan ekonomi yang mempunyai hubungan dan peranan dalam pertumbuhan dan perubahan pendidilkan.
Korelasi antara pendidikan dengan sosial ekonomi masyarakat akan berpengaruh juga dengan strategi perencanaan pendidikan. Perencanaan strategi pendidikan yang diberikan kepada masyarakat yang memiliki kelas sosial rendah tentu berbeda dengan masyarakat yang memiliki kelas sosial lebih tinggi. Perbedaan itu juga dipengaruhi oleh tingkat ekonomi suatu masyarakat.. Seperti misalnya masyarakat barat yang mempunyai tingkat ekonomi yang lebih mapan dan tingkat sosial yang tinggi memandang pendidikan adalah hal yang sangat penting, karena dengan pendidikan itulah suatu masyarakat maupun negara akan cepat maju dan makmur. Maka dari  itu, makalah ini akan sedikit membahas bagaimana korelasi antara sosial ekonomi terhadap perencanaan pendidikan.

II.      Rumusan Masalah
Dari Penjelasan latar belakang diatas, maka ddalam makalah ini akan di bahas beberapa masalah terkait, diantaranya yaitu :
1.    Bagaimana Urgensi Perencanaan Pendidikan ?
2.    Bagaimana Korelasi Perencanaan Pendidikan Dengan Sosial dan Ekonomi Masyarakat?
3.    Bagaimana Aspirasi Masyarakat Terhadap Pendidikan?
A.   PEMBAHASAN
1.      Urgensi Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan harus meliputi dua macam perencaanaan, yaitu perencanaan makro yang membuat dimensi yang luas daripada sistem pendidikan dan relasinya dengan perencanaan dalam bidang sosial dan ekonomi serta perencanaan mikro yang memuat perencanaan mengenai proses internal daripada sistem pendidikan termasuk pola subsistem sub sistem yang ada di dalamnya.
Perencanaan pendidikan adalah suatu proses yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputi pelaksanaan dan pengkoordinasian, metode penelitian sosial, prinsip dan teknik pendidikan, administrasi, ekonomi, dan keuangan melalui dukungan masyarakat terhadap pendidikan. Dengan tujuan dalam langkah-langkah yang dirumuskan secara pasti untuk memberikan kesempatan kepada setiap orang dalam mengembangkan berbagai potensinya agar dapat memberikan kontribusinya secara efektif terhadap pembangunan sosial, kebudayaan dan ekonomi bagi negerinya.[1]
Sedangkan Udi Saefuddin dan Samsudi Maknun  menegaskan secara lebih jauh lagi akan pentingnya praperkiraan dalam menganalisa pentingnya perencanaan pendidikan dalam berbagai aspek, yaitu :
1.        Pertumbuhan penduduk
2.        Partisipasi dalam pendidikan(dengan menghitung penduduk yang sekolah)
3.        Arus murid dari kelas satu ke kelas yang lebih tinggi dan dari satu tingkat ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan
4.        Pilihan atau keinginan masyarakat dari individu tentang jenis-jenis pendidikan.
Menurut Direktorat Pendidikan Dasar dalam Bafadal (1999:29), setidaknya ada lima komponen yang menentukan mutu suatu pendidikan, antara lain adalah:
a.       Kegiatan belajar mengajar.
b.      Manajemen pendidikan yang efektif dan efisien.
c.       Buku dan sarana belajar yang memadai dan selalu dalam kondisi siap pakai.
d.      Fisik dan penampilan sekolah yang baik, dan
e.       Partisipasi aktif  masyarakat.
Masyarakat memiliki peran yang sangat penting terhadap keberadaan, keberlangsungan, bahkan kemajuan lembaga pendidikan. Setidaknya salah satu parameter penentu nasib lembaga pendidikan adalah masyarakat. Apabila ada lembaga pendidikan yang maju, salah satu faktor keberhasilan tersebut adalah keterlibatan masyarakat yang maksimal. Begitu pula sebaliknya, apabila ada lembaga pendidikan yang bernasib memprihatinkan, salah satu penyebabnya kurangnya dukungan masyarakat.[2]
2.      Korelasi Perencanaan Pendidikan Dengan Sosial dan Ekonomi Masyarakat
Dalam kehidupan bermasyarakat kita mengenal dua istilah penting yang saling berhubungan, yaitu sosial dan ekonomi masyarakat. Masyarakat adalah lingkungan sosial. Pengertian lingkungan sosial adalah semua orang lain yang mempengaruhi orang lain itu sendiri, termasuk cara pergaulan, adat-istiadat, agama dan kepercayaan. Masyarakat atau lingkungan sosial yang menjadi fokus hubungan sekolah dan masyarakat adalah lingkungan sosial yang mencakup manusia dan kebudayaannya.

Selain itu ekonomi masyarakat juga ada hubungannya dengan perencanaan pendidikan. Umumnya masyarakat yang mempunyai penghasilan yang kecil atau dibawah rata-rata, mereka berupaya hasil dari pekerjaannya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keluarga yang berpenghasilan menengah mereka lebih terarah kepada pemenuhan kebutuhan pokok yang layak seperti makan, pakaian, membangun rumah, pendidikan dan lain-lain. Sedangkan keluarga yang berpenghasilan tinggi dan berkecukupan mereka akan memenuhi segala keinginan yang mereka inginkan termasuk keinginan untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Itulah gambaran dinamika ekonomi masyarakat. Hal tersebut tentu akan menghambat perencanaan pendidikan pada umumnya.
Maka dari itu, mulai dari sekarang kita harus bisa merubah pemikiran-pemikiran yang kurang pas tersebut, khususnya bagi masyarakat yang berekomoni rendah. Kita harus bisa meyakinkan mereka bahwa pendidikan itu sangat penting dan paling utama yang harus di prioritaskan untuk kelangsungan hidup di waktu yang akan datang, sehingga perencanaan pendidikan dapat berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan.
Perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat digunakan dalam penelitian-penelitian dimana faktor penentu target jumlah peserta didik pada masa mendatang adalah terbatasnya ruang kelas, standar mutu yang dikombinasi dengan jatah penerimaan, kebijakan beasiswa dan beban uang pendidikan, jangkauan geografi, karakteristik kepercayaan calon peserta didik, standar mutu yang diterima, ujian dan kebijakan khusus, ataupun kebijakan umum dalam sistem penerimaan terbuka atau penerimaan terseleksi.[3]
Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai dengan keberadaannya. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam diri anak, apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap, keterampilan maupun performan dapat dikembangkan oleh sekolah ataupun dalam keluarga. Karena keterbatasan dana dan kelengkapan lembaga tersebut. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak didik atau individual secara utuh dan terpadu.
Menurut Purwanto (1990) ada tiga jenis hubungan antara sekolah dan masyarakat, yaitu :
a. Hubungan edukatif
Hubungan edukatif adalah hubungan kerjasama dalam hal mendidik murid antara guru dan orang tua. Hubungan ini mempunyai maksud agar tidak terjadi perbedaan prinsip yang dapat mengakibatkan keragua-raguan dalam kepribadian dan sikap seorang anak. Hubungan kerjasama yang lainnya adalah dengan berusaha memenuhi fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Cara kerjasama itu dapat direalisasikan dengan pertemuan rutin orangtua murid ke sekolah demi membahas masalah murid yang ada.
Dengan adanya hubungan ini, diharapkan pihak sekolah dan orangtua murid dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada di lingkungan sekolah yang dapat meningkatkan mutu pendidikan bagi murid sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik.
b. Hubungan Kultural
Hubungan Kultural adalah usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada.
Sekolah merupakan suatu lembaga yang seharusnya dapat dijadikan barometer bagi maju-mundurnya kehidupan, cara berpikir, kepercayaan, kesenian, dan adat-istiadat. Dan kemudian sekolah juga seharusnya dapat dijadikan titik pusat dan sumber tempat terpancarnya norma-norma kehidupan yang baik bagi kemajuan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang maju. Jadi, bukanlah sebaliknya sekolah hanya mengintroduksikan apa yang hidup dan berkembang di masyarakat.
Untuk itu diperlukan adanya hubungan yang fungsional antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan dari perkembangan masyarakat. Untuk menjalankan hubungan kerja sama ini, sekolah harus mengerahkan murid-muridnya untuk membantu kegiatan-kegiatan sosial yang diperlukan oleh masyarakat. Kegiatan-kegiatan sosial ini berarti mendidik anak-anak berpartisipasi dan turut bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.
c. Hubungan institusional
Hubungan Institusional adalah hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instasi-instasi resmi lain, baik swasta maupun pemerintahan, seperti hubungan kerja sama antara sekolah dengan sekolah-sekolah lain, dengan kepala pemerintahan setempat, jawatan penerangan, jawatan pemerintahan, perikanan dan peternakan, dengan perusahaan-perusahaan Negara atau swasta, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang mendidik anak-anak yang nantinya akan hidup sebagai anggota masyarakat yang terdiri atas bermacam-macam golongan, jabatan, status sosial, dan bermacam-macam pekerjaan, sangat memerlukan adanya hubungan kerjasama itu. Dengan adanya hubungan ini, sekolah dapat meminta bantuan dari lembaga-lembaga lain.[4]
Menurut E. Mulyasa (dalam Udi Syaefuddin dan Abin Samsudin Maknun, 2009), model manajemen sekolah atau pendidikan dengan masyarakat merupakan seluruh proses kegiatan sekolah atau pendidikan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh, disertai pembinaan secara kontinyu untuk mendapatkan simpati dari masyarakat pada umumnya, dan khususnya masyarakat yang berkepentingan langsung dengan sekolah. Simpati masyarakat akan tumbuh melalui upaya-upaya sekolah dalam menjalin hubungan secara intensif dan proaktif, disamping membangun citra lembaga yang baik.
Perencanaan pendidikan perlu mempertimbangkan aspek sosiologis seperti yang dijelaskan diatas yaitu kebiasaan, adat istiadat dan kebudayaan serta nilai-nilai budaya masyarakat setempat dan aspek-aspek ekonomi seperti tingkat pendapatan, pola konsumsi, dan sebagainya.
Setiap kebijakan yang dituangkan dalam rencana pendidikan yang dilaksanakan akan mempengaruhi kehidupan sosial dan tingkah laku kelompok masyarakat, oleh karena itu dalam perencanaan pendidikan harus memperhatikan aspek-aspek sosiologis yang berkaitan dengan pembangunan pendidikan, di antaranya yaitu :
1)     Bagaimana aspirasi masyarakat terhadap pendidikan, di mana pendidikan dapat memberikan kesempatan untuk memperbaiki mutu kehidupan;
2)     Bagaimana mendapatkan pendidikan yang mudah dan murah sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat;
3)     Bagaimana mempersiapkan fasilitas pendidikan dan mutu pendidikan yang baik;
4)     Bagaimana menghadapi situasi dan aspirasi masyarakat yang selalu bergerak dan berkembang.
Secara kongkrit, tujuan diselenggarakannya hubungan sekolah dan masyarakat adalah :
Ø  Mendapatkan pentingnya sekolah bagi masyarakat.
Ø  Mendapatkan dukungan dan bantuan moral maupun financial yang diperlukan bagi pengembangan sekolah.
Ø  Memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanaan program sekolah.
Ø  Memperkaya atau memperluas program sekolah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
Ø  Mengembangkan kerja sama yang lebih erat antara keluarga dan sekolah dalam mendidik anak-anak.

Pendidikan dapat dipandang sebagaai investasi karena pendidikan yang berhasil akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kemajuan ekonomi mendorong perkembangan pendidikan, dan pendidikan yang maju merupakan salah satu persyaratan untuk perkembangan ekonomi selanjutnya. [5] Pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu saja, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat yang mana dengan pendidikan sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini, secara langsung dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan sangat erat kaitannya dengan suatu konsep yang disebut dengan human capital.
Kegagalan sistem pendidikan selama ini mungkin karena gagalnya rencana awal. Rencana yang tidak memperhitungkan aspek sosial, ekonomi, adat istiadat dan aspek lain dalam masyarakat adalah kesalahan fatal dalam merumuskan konsep pendidikan. Maka dari itu, untuk mengatasi gagalnya konsep pendidikan, maka perlu dilakukan kajian yang mendalam terhadap masalah-masalah sosial yang berdampak terhadap perencanaan pendidikan. Diantara solusi tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui tingkat kemiskinan. Dengan mengetahui tingkat kemiskinan pihak pemerintah dapat menentukan tingkat pemerataan yang sudah direncanakan.
2.      Membangun kepercayaan masyarakat melalui sosialisasi pentingnya pendidikan serta member beasiswa kepada anak-anak miskin untuk turut mengenyam pendidikan.
3.      Dalam merencanakan pendidikan harus memperhatikan dan menerapkan pembentukan karakter peserta didik.
4.      Pemerintah memberikan bekal ketrampilan sesuai dengan lingkungan kerja.
5.      Penyelanggaraan kerja lebih menekankan kepada keahlian sesuai dengan kompetensinya, ini terkait masalah sosial yang berhubungan dengan aspek pendidikan. Jika hal ini diterapkan, pendidikan tidak hanya menekankan pada sisi kognitifnya saja, melainkan lebih berfokus pada sisi karakter dan keterampilan setiap individu.
3.      Aspirasi Masyarakat Terhadap Pendidikan
Adanya kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu dalam segala bidang bagi orang yang mampu misalnya dengan sendirinya mengubah sikap masyarakat terhadap pendidikan. Pendidikan bukan lagi milik golongan atau sekelompok masyarakat tertentu dan karena itu aspirasi masyarakat terhadap pendidikan menjadi makin tinggi. Ini merupakan salah satu perubahan sosial yang penting dan sangat berguna.
Pendidikan merupakan alat yang paling efektif untuk menaikkan status sosial seseorang. Seorang petani melihat baha putranya dapat menjadi seorang dokter melalui pendidikan yang baik. Demikian juga, setelah belajar sambil mengajar, seorang guru SD berhasil meningkatkan statusnya menjadi seorang dosen di Perguruan Tinggi. Dalam hal ini pendidikan memperbaiki  kehidupan individu dan masyarakat. Pendidikan memberikan sumbangan yang besar untuk terjadinya suatu mobilitas sosial. Dalam contoh di atas pendidikan berfungsi sebagai “Social elevator” atau peningkatan status sosial.
Bersamaan dengan peningkatan tersebut, individu yang bersangkutan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, misalnya memperpanjang kesempatan dalam hidup yang sifatnya produktif, lebih giat bekerja, lebih mampu mengikuti beraneka ragam kegiatan yang memberikan kepuasan, lebih dapat menikmati hasil kerja dan sebagainya. Karena itu tidak mengherankan jikalau masyarakat desa dan kota makin cenderung menaruh minat kepada pendidikan. Makin disadari bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan perorangan dan masyarakat.
Karena aspirasi masyarakat untuk memasuki pendidikan begitu besar dan menyebar luas, maka penyusun kebijaksanaan, perencanaan mengahadapi suatu masalah pokok yaitu bagaimana caranya supaya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan menjadi merata, antara desa dan kota dan antara pria dan wanita. Pemerataan kesempatan belajar harus dijamin kalau memang pendidikan dapat memberi kesempatan untuk memperbaiki hidup seseorang. Untuk ini perencanaan pendidikan mengahadapi tiga hambatan penting:
1.    Masalah bagaimana mendapatkan pendidikan secara mudah. Pendidikan harus memberikan kesempatan kepada masyarakat secara merata. Dalam hal ini perencanaan pendidikan menemukan kesulitan karena fasilitas yang tersedia dan sumber penyediaan terbatas.
2.    Fasilitas dan mutu pendidikan berbeda antara kota dengan desa bahkan sekolah di kota dan antar sekolah di desa. Walaupun semua anak mempunyai kesempatan belajar yang sama belum tentu semuanya mendapat pendidikan yang sama karena perbedaan jumlah dan mutu fasilitas, perbedaan kualifikasi guru, lingukngan, pendidikan dan ekonomi orang tua dan sebagainya. Dalam hal ini perencana pendidikan harus mengambil keputusan serta pelaksanaan harus: pertama, memanfaatkan fasilitas dan dana yang tersedia atas prinsip pemerataan kesempatan menerima pendidikan. Kedua, memikirkan batas-batas kebutuhan pasaran tenaga kerja.
3.    Situasi masyarakat dengan aspirasinya yang selalu bergerak di negara yang sedang berkembang. Pergerakan ini dipengaruhi oleh faktor pembangunan di sektor lain di samping daya tarik lembaga-lembaga pendidikan itu sendiri. Ada masanya masyarakat sangat tertarik kepada pendidikan menengah kejuruan dan aspirasi ini harus ditampung dan tergambar dalam perencanaan pendidikan.
Perlu diingat bahwa pendidikan bermaksud melayani kebutuhan masyarakat dalam arti menambah kemampuan masyarakat untuk dapat bertahan dan mengembangkan diri dalam semua aspek kehidupan. Karena itu materi yang disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat di mana kelak mereka terjun. Perlu direncanakan kurikulum yang berorientasi langsung pada masyarakat sehingga anak didikpun tidak terasing dari lingkungannya. Kemudian tidak dapat diingkari bahwa hubungan pendidikan dengan masyarakat sangat erat dan saling mempengaruhi, oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan yang baik agar tercipta generasi yang siap terjun kedalam lingkungan masyarakat.

B.   CRITICAL THINGKING
Pendidikan dan kehidupan masyarakat adalah dua faktor yang saling mempengaruhi. Keduanya mempunyai timbal balik yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, antara lain keadaan sosial ekonomi; faktor kesenjangan sosial ekonomi akan mempengaruhi strategi dalam perencanaan pendidikan. Misalnya pada tingkat masyarakat yang berekonomi tinggi pasti akan lebih memperhatikan dan mengedepankan pendidikan bagi anak-anaknya dibandingkan dengan masyarakat yang berekonomi rendah. Karena mereka yang berekonomi tinggi selain sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya juga memandang bahwa pendidikan itu penting karena dengan itulah sebagai bekal anak-anaknya akan bisa melanjutkan kehidupan di masa yang akan datang. Pendidikan mempengaruhi kehidupan masyarakat, dengan memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik secara langsung maupun tidak langsung akan menentukan jenis pekerjaan dan penghidupan di kemudian hari, profesinya akan menempatkan seseorang pada tingkat sosial ekonomi tertentu.
Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan tidak berdiri sendiri, oleh karena itu perencanaan pendidikan perlu mengetahui aspek-aspek sosial dan ekonomi yang mempunyai hubungan dan peranan dalam pertumbuhan dan perubahan pendidilkan. Masyarakat memiliki peran yang sangat penting terhadap keberadaan, keberlangsungan, bahkan kemajuan lembaga pendidikan. Apabila ada lembaga pendidikan yang maju, salah satu faktor keberhasilan tersebut adalah keterlibatan masyarakat yang maksimal. Begitu pula sebaliknya, apabila ada lembaga pendidikan yang bernasib memprihatinkan, salah satu penyebabnya kurangnya dukungan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut
Maka dari itu, jika kita ingin lembaga pendidikan yang ada di indonesia ini, khususnya yng ada di desa kita maju,terlebih dalam hal perencanaanya, maka kita harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa lembaga yang ada.tersebut baik dan cocok untuk anak-anaknya dan mengajak masyarakat untuk mau ikut terlibat dan memberikan dukungan dalam lembaga pendidikan tersebut yang nantinya hubungan antara pendidikan dan masyarakat (sosial ekonomi) akan berjalan dengan baik.

C.   KESIMPULAN
Perencanaan pendidikan adalah suatu proses yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputi pelaksanaan dan pengkoordinasian, metode penelitian sosial, prinsip dan teknik pendidikan, administrasi, ekonomi, dan keuangan melalui dukungan masyarakat terhadap pendidikan. Dengan tujuan dalam langkah-langkah yang dirumuskan secara pasti untuk memberikan kesempatan kepada setiap orang dalam mengembangkan berbagai potensinya.
Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai dengan keberadaannya. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam diri anak, apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap, keterampilan maupun performan dapat dikembangkan oleh sekolah ataupun dalam keluarga. Karena keterbatasan dana dan kelengkapan lembaga tersebut. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak didik atau individual secara utuh dan terpadu.
Secara kongkrit, tujuan diselenggarakannya hubungan sekolah dan masyarakat adalah : Mendapatkan pentingnya sekolah bagi masyarakat, mendapatkan dukungan dan bantuan moral maupun financial yang diperlukan bagi pengembangan sekolah, memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanaan program sekolah, memperkaya atau memperluas program sekolah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, mengembangkan kerja sama yang lebih erat antara keluarga dan sekolah dalam mendidik anak-anak.
Pendidikan merupakan alat yang paling efektif untuk menaikkan status sosial seseorang. Bersamaan dengan peningkatan tersebut, individu yang bersangkutan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, misalnya memperpanjang kesempatan dalam hidup yang sifatnya produktif, lebih giat bekerja, lebih mampu mengikuti beraneka ragam kegiatan yang memberikan kepuasan, lebih dapat menikmati hasil kerja dan sebagainya. Karena itu tidak mengherankan jikalau masyarakat desa dan kota makin cenderung menaruh minat kepada pendidikan. Makin disadari bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan perorangan dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Endang Soenarya, Pengantar Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem, AdiCita, Yogyakarta, 2000
Hamdani, Dasar-Dasar Kependidikan, Pustaka Setia, Bandung, 2011
http://daripada.com/perencanaan-pendidikan-sosial-dan-ekonomi/,
Kahar Utsman dan Nadhirin, Perencanaan Pendidikan, STAIN Kudus, Kudus, 2008
Purwanto, M. Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990




[1] Kahar Utsman dan Nadhirin, Perencanaan Pendidikan, STAIN Kudus, Kudus, 2008, Hlm. 69
[2] Hamdani, Dasar-Dasar Kependidikan, Pustaka Setia, Bandung, 2011, Hlm. 195
[3] Endang Soenarya, Pengantar Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem, AdiCita, Yogyakarta, 2000, hal 71
[4] Purwanto, M. Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990
[5] http://daripada.com/perencanaan-pendidikan-sosial-dan-ekonomi/


Blog, Updated at: 9:17:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan Komentar Pada artkel ini..
FOLLOW Blog saya untuk mendapatkan Artikel Terbaru dari Saya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts